TUGAS
SOFTKILL TENTANG KEBUDAYAAN
KEBUDAYAAN/ADAT BATAK (ADAT DALIHAN NATOLU)
Orang Batak memang tidak bisa terlepas dari
kebudayaannyasebagai orang Batak. Dan tidak hanya suku Batak saja akan tetapi
juga dengan suku-suku lainnya yang ada lainnya diIndonesia bahkan didunia.
Karena setiap suku mempunyai budaya/adat masing-masing merupakan sebagian dari
hidup mereka. (diartikan secara positif). Setiap budaya/adat tidak bisa
dipungkiri bahwa adat/kebudayaan harus terbuka kepada pembaruan-pembaruan sesuai
tuntutan jaman akan tetapi khas suku tersebut tidak bias lepas.
Adat Batak kurang
efisien dalam mengatur waktu, hal ini perlu mendapat perubahan tanpa mengurangi
makna dan hakekat adat batak tersebut. Permasalahan adat batak semakin banyak
dipergunjingkan oleh orang BATAK KRISTEN pada waktu belakangan ini. Sebagian
besar dari mereka adalah pemuda/I yang menganggap bahwa adat Batak tersebut
kolot “old fashioned” membosankan, dan bertele-tele. Harus diakui bahwa adat
Batak itu pada mulanya tidak terlepas pada agama Batak tua. Dipakai untuk
peneguhan agamaniah seseorang.
Adat Batak sering
dikenal dengan istilah dalihan natolu.
Adat adalah aturan yang berlaku karena kebiasaan (hasomalon) yang turun
temurun. Dalihan Na Tolu adalah filosofis yang
menyangkut masyarakat dan budaya batak. Dalam adat batak dikenal dengan tiga
kedudukan fungsional sebagai kontruksi social yang terdiri 3 hal yang menjadi
dasar bersama yaitu:
1.
Manat
Mardongan Tubu (bersikap baik dengan teman semarga)
Jika kita memperhatikan kampong-kampung yang ada ditanah
batak yang tepatnya Tapanuli yang masih sangat tradisional praktis dihuni oleh
orang-orang yang satu marga dengan kita(dongan tubu). Karena mereka adalah
teman untuk mengerjakan dan merencanankan banyak hal untuk kehidupan
sehari-hari. Oleh sebab itu kita harus hati-hati kepada dongan tubu kita (teman
satu marga kita didaerah tapanuli).
2.
Elek
Marboru (menghargai wanita)
Elek Marboru merupakan nasehat supaya timbul sikap membujuk
wanita/pihak boru. Jadi kita senantiasa ramah dan lemah lembut, mereka harus
diperhatikan agar tidak lari dari jalannya.
3.
Somba
Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula,
namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang tekananya pada somberarti menyembah, akan
tetapi kata Somba di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti
hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula
adalah kelompok marga
istri, mulai dari istri kita, kelompok marga
ibu(istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok
marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan
seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber
berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari
seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa
istri tidak ada keturunan.
Selain kita telah
mengetahui inti dari adat batak itu tersebut otomatis kita mengetahui apa yang
menjadi cirri khas makanan dari adat
batak yaitu saksang,arsik, manuk napinadar,dekke naniura,
tanggotanggo,natinombur,itak gurgur,sambal tuktuk,tipa-tipa,mie gomak dll.
Didalam adat batak kita harus mengetahui partuturan kita sendiri atau
kekerabatan adat batak toba, yaitu
Uda, Amang Uda, Bapa Uda
·
panggilan kita
terhadap adik laki-laki dari ayah kita,
·
panggilan kita
terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi
ayah kita lebih tua darinya,
·
panggilan kita kepada
suami dari adik perempuan ibu kita.
Inang Uda, Nanguda
·
panggilan kita
terhadap istri dari adik laki-laki ayah kita,
·
panggilan kita
terhadap istri dari semarga kita yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah
kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
Amang Tua, Bapa Tua (Pak Tua)
·
panggilan kita
terhadap Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·
panggilan kita
terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi
ayah kita lebih muda darinya,
·
panggilan kita kepada
suami dari kakak perempuan ibu kita.
Inang Tua, Nantua (Mak tua)
·
panggilan kita
terhadap istri dari Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·
panggilan kita
terhadap istri dari orang semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan
ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
·
panggilan kita kepada
kakak perempuan ibu kita.
Tulang (Paman)
·
panggilan kita kepada
saudara laki-laki ibu kita.
Nantulang (bibi)
·
panggilan kita
terhadap istri dari tulang kita.
Lae
·
panggilan kita (laki-laki)
kepada anak laki-laki dari tulang kita,
·
panggilan kita
(laki-laki) kepada suami dari saudari kita yang perempuan.
Eda
·
panggilan kita
(perempuan) kepada anak perempuan dari tulang kita,
·
panggilan kita
(perempuan) kepada istri dari saudara kita yang laki-laki.
Amangboru
·
panggilan kita
terhadap suami dari saudari ayah kita perempuan,
·
panggilan terhadap
suami dari perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya
setingkat dengan ayah kita.
Namboru
·
panggilan kita
terhadap saudara perempuan ayah kita,
·
panggilan terhadap
perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan
ayah kita.
Ito, iboto
·
panggilan kita sebagai
laki-laki kepada saudari kita (perempuan),
·
panggilan kita sebagai
perempuan kepada saudara kita yang laki-laki,
·
panggilan umum bagi
orang kepada lawan jenisnya dalam budaya batak toba.
Pariban
·
panggilan kita sebagai
laki-laki terhadap anak perempuan dari tulang kita,
·
panggilan kita sebagai
perempuan terhadap anak laki-laki dari Namboru kita.
Inang (ibu)
·
panggilan kita
terhadap perempuan yang lebih tua dari kita atau kepada orang (perempuan) yang
dituai,
·
panggilan umum untuk
menghormati semua perempuan.
Amang
·
panggilan kita
terhadap pria yang lebih tua dari kita atau orang (pria) yang dituai,
·
panggilan umum untuk
menghormati para pria.
Inong (ibunda)
·
panggilan khusus
kepada ibunda kita.
Among (Ayahanda)
·
panggilan khusus
kepada ayahanda kita.
Ompung (Kakek/Nenek)
·
dibaca Oppung
·
panggilan kepada
kakek/nenek kandung kita.
·
panggilan kepada anak
Tulang (Paman) Kita.
·
panggilan umum kepada
orang tua yang setingkat dengan kakek/nenek kandung kita.
Ompung Doli (Kakek)
·
dibaca Oppung Doli
·
panggilan khusus
kepada kakek kita, ayah dari ayah/ibu kita
Ompung Boru (Nenek)
·
dibaca Oppung Boru
·
panggilan khusus
kepada nenek kita, ibu dari ayah/ibu kita
(SUMBER DARI ORANGTUA DAN WIKIPEDIA INDONESIA)